Jumat, 03 April 2009

3 Kesalahan Saat Menjawab Pertanyaan Mengenai Kelebihan dan Kekurangan Diri

Kelebihan dan kekurangan diri (strength and weak points) adalah salah satu pertanyaan yang cukup sering ditanyakan saat wawancara kerja maupun wawancara berbasis perilaku. Beberapa jawaban di bawah ini membuat saya malees banget mendengarnya. Please don’t try to do this at interview session :
Saya tidak tahu apa kelebihan dan kekurangan diri saya. Yang bisa menilai kan orang lain.
Please deh, kalau anda sendiri saja nggak mengetahuinya, bagaimana orang lain bisa? Bukankah pada sebagian besar waktu kita bersama orang lain selalu mengenakan berbagai topeng? Coba duduk sebentar dan renungkan, apa pekerjaan paling baik yang bisa anda lakukan? Apa sifat-sifat yang pernah membuat anda mampu mengatasi kesulitan atau keadaan yang paling tidak menyenangkan? Hal-hal apa yang pernah dipuji oleh orang lain dari anda? Setelah itu renungkan juga, sifat-sifat apa yang selama ini ingiiin sekali anda hindari namun hal itu masih sulit dicapai? Sifat apa yang membuat anda pernah gagal menyelesaikan suatu tugas? Sifat apa yang masih ingin anda kembangkan atau anda miliki dalam diri anda ?
Tahu apa kelebihannya tapi tidak memiliki bukti-bukti untuk mendukung pernyataan tersebut.
Apapun yang anda nyatakan dalam interview, anda harus mempunyai bukti, evidence, sampel kejadian, contoh konkritnya. Anda bilang “saya jujur, saya seorang pekerja keras”. Adakah kejadian tertentu yang membuat anda memberi pernyataan ini?. Tanpa bukti yang kuat, jangan harap pewawancara akan percaya begitu saja mengenai kejujuran anda. “saya pekerja keras, buktinya saya masuk selalu tepat waktu, tugas-tugas saya selesai dengan baik dan pada deadline yang ditentukan, …”. Lho, semua orang memang harus begitu kan? Beri contoh yang lebih spesifik, seorang pekerja keras harus teruji dengan kesulitan dan kendala, jika contoh yang anda berikan hanya situasi sehari-hari saja, itu sih bukan kelebihan.
Pilih kekurangan yang paling sederhana, paling aman dan justru saat disampaikan pada pewawancara ini akan jadi kelebihan.
Saya seriiing sekali mendengar hal ini. Di berbagai situs yang memuat contoh-contoh pertanyaan dan jawaban interview ini seringkali dimuat. Anda pikir pewawancara akan menelan itu mentah-mentah. Saya sih tidak! “Kekurangan saya, saya ini perfeksionis, maunya serba sempurna, terkadang ini membuat cara kerja saya …bla..bla..bla…, maunya serba detil dan teliti sebelum menyelesaikan tugas, ......” Hi..hi..hi.. nyontek dari mana nih? Jujur, beberapa tahun yang lalu saya pikir pendapat di atas adalah good idea. Namun setelah berprofesi sebagai pewawancara, saya justru tidak mendapatkan informasi apapun tentang orang yang saya wawancarai (asessee) dengan jawaban-jawaban sejenis. Ini tentunya bertentangan dengan keinginan dari sudut asessee yang ingin menampilkan dan menjual dirinya sebaik mungkin. Kasihan kan ? Jadi saya masih mengejarnya dengan beberapa pertanyaan lanjutan, namun jika asessee masih ngotot dan memberi jawaban berputar-putar mengenai kekurangannya, ya, saya kan tidak bisa memaksa.
Sekali lagi, jawaban-jawaban mengenai kelebihan perlu didukung oleh bukti yang kuat. Selain itu, tidak ada gading yang tak retak. Apapun kekurangan anda, yang paling penting adalah : 1) Anda menyadari hal itu, 2) Anda ingin berubah, 3) Anda melakukan usaha-usaha yang konkrit untuk mengupayakan perubahan dan pengembangan diri anda ke depan, untuk menjadi pribadi yang semakin baik dan semakin baik. Saya justru salut pada asesee yang bersikap terbuka dan sudah memperlihatkan upayanya untuk terus belajar dan mengembangkan diri, apapun kekurangan dan kesulitan yang dihadapinya. Nah! Jangan takut untuk tampil tidak sempurna di hadapan pewawancara, Nobody’s perfect!

2 komentar:

Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Poskan Komentar

 
Mitra Inspira Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template