Hidup ini Bagaikan Makan di Restoran (bagian 2)

Setiap hari kita ”memesan hidup” dengan ucapan, pikiran dan self talk seperti :

Terima kasih Tuhan saya masih bisa bangun pagi ... 

Masih banyak orang yang peduli di negeri ini ... 

Pengendara motor / mobil itu mungkin sedang tergesa-gesa karena istrinya mau melahirkan ... 

Orang itu dikirim Tuhan untuk mendidik agar saya lebih baik ... 

Semakin saya didholimin semakin didengarlah do’a-do’a saya ... 

Seberat apapun tugas, saya akan berusaha semaksimal mungkin ... 

Lagi krisis nih, pasti banyak peluang yang bisa digarap ... 

Walau capek terasa, Terima kasih Tuhan saya masih bisa bekerja ... 

Negeri ini makin baik, buktinya KPK banyak nangkep koruptor ... 

Yang penting saya membuang sampah pada tempatnya ... 

dll

atau kita ”memesan hidup” dengan Citra Diri seperti :

Meskipun pernah gagal, Saya masih bisa sukses ... 

Saya cukup berharga ... 

Saya punya banyak waktu untuk belajar … 

Dia bisa, Saya juga bisa ... 

Saya sih PD aja ... 

s/d

55.000 pikiran lainnya

 

Maka pesanan yang akan datang dalam hidup kita mungkin adalah :

Rasa syukur, semangat, tenang, memaafkan, tersenyum, tegar, indah, jernih, maksimal, tangguh, optimis, ikhlas, pasrah, damai, lega, lapang, nyaman, bahagia, dll

Dan kejadian-kejadian yang akan menghampiri Anda berangsur-angsur akan semakin baik karena Anda telah ”memesannya”

Yang pasti kita tidak sepenuhnya di kiri (negatif) atau di kanan (positif), kita sendiri yang tahu posisi kita ada dimana...

Yang penting adalah seberapa besar usaha kita untuk menggeser dari ”cara memesan kiri” ke ”cara memesan kanan”

SO ...

HIDUP INI ADALAH PILIHAN

Anda mau memesan apapun akan datang cepat atau lambat ...

( cobalah! dalam 1 hari, dengan sengaja, Anda berusaha untuk memesan dengan cara positif dari pagi hingga malam dan rasakan hasilnya ... )

Disarikan dari buku-buku

The New Psycho Cybernetic, The Secret, Quantum Ikhlas, The Secret of Mindset, The Luck Factor, The Science and Miracle of Zona Ikhlas, dll

Selengkapnya...

Hidup ini bagaikan makan di Restoran (bukan sebuah puisi)

Bila kita datang ke restoran maka kita akan memesan makanan, menuggu dan akhirnya pesanan kita akan datang untuk kita santap

Apa yang kita santap sekarang adalah hasil dari pesanan kita sebelumnya

Dalam hidup, apa yang kita alami sekarang adalah hasil dari ”pesanan” yang kita buat kemarin, minggu lalu, bulan lalu atau tahun lalu

Bagaimana cara kita memesan ? apa yang menyebabkan cepat atau tidaknya pesanan itu datang ? mengapa ”menurut kita” pesanan sering tidak sesuai ”keinginan” kita ?

Setiap hari kita melakukan ”pemesanan” baik sadar maupun tidak sadar lewat UCAPAN, PIKIRAN, KATA HATI (SELF TALK) dan CITRA DIRI

”Pesanan” itu akan datang kepada kita nanti, besok, minggu depan, bulan depan atau mungkin beberapa tahun lagi

Riset menyebutkan manusia memiliki 60.000 pikiran setiap hari. Bisa dibayangkan betapa sulit dan mustahilnya membuat semua pikiran itu positif.

(buku : Quantum Ikhlas, hal. 97, Erbe Sentanu)

Deepak Chopra dalam salah satu bukunya mengatakan setiap hari kita berbicara 55.000 – 65.000 kali dengan diri kita sendiri.

(buku : The Secret of Mindset, hal. 80, Adi W. Gunawan)

“Pesanan” kita bisa berupa pesanan yang baik atau buruk, positif atau negatif, tergantung dari Ucapan, pikiran, self talk dan citra diri kita saat memesan.

”Pesanan” kita bisa cepat datang atau lambat datang, tergantung dari Emosi (positf atau negatif) yang menyertainya saat kita memesan.

INTROSPEKSI DIRI

Setiap hari kita ”memesan hidup” dengan ucapan, pikiran dan self talk seperti :

Aduh .... masih ngantuk nih, capek banget ...

Waduh serem ya ... ada demo dimana-mana ...

Pengendara motor / mobil itu gak tahu aturan kali ya ....

Orang itu ngeselin banget sih

Aku merasa di dholimin nih ...

Pasti saya tidak bisa deh menyelesaikan tugas ini ...

Lagi krisis nih, pasti apa-apa mahal dan susah deh ...

Setelah seharian bekerja, rasanya capek banget nih ...

Negeri ini sudah rusak ya, dimana-mana ada korupsi ...

Orang itu memang tidak tahu diri, buang sampah sembarangan ...

Sok tahu amat sih orang yang nulis ini ...

dll ...

atau kita ”memesan hidup” dengan Citra Diri seperti :

Saya orang yang gagal

Saya orang susah

Saya sulit berhasil

Saya sudah mentok

Saya kurang PD

Saya sulit berkembang

Ilmu saya hanya segini

Saya terlalu tua

s/d

55.000 pikiran lainnya ( waow ... banyak ya ...)

Maka pesanan yang akan datang dalam hidup kita mungkin adalah :

Rasa capek, stress, takut, kesal, marah, sedih, tidak mampu, pesimis, jengkel, kuatir, kecewa, rasa bersalah, mengeluh, tidak puas, sempit, kekurangan, dll ()

Dan kejadian-kejadian itu akan terus berulang dan berulang datang kepada Anda karena Anda telah ”memesannya”

ATAUKAH ....... (bersambung)

Selengkapnya...


Kelebihan dan kekurangan diri (strength and weak points) adalah salah satu pertanyaan yang cukup sering ditanyakan saat wawancara kerja maupun wawancara berbasis perilaku. Beberapa jawaban di bawah ini membuat saya malees banget mendengarnya. Please don’t try to do this at interview session :

Saya tidak tahu apa kelebihan dan kekurangan diri saya. Yang bisa menilai kan orang lain. 


Please deh, kalau anda sendiri saja nggak mengetahuinya, bagaimana orang lain bisa? Bukankah pada sebagian besar waktu kita bersama orang lain selalu mengenakan berbagai topeng? Coba duduk sebentar dan renungkan, apa pekerjaan paling baik yang bisa anda lakukan? Apa sifat-sifat yang pernah membuat anda mampu mengatasi kesulitan atau keadaan yang paling tidak menyenangkan? Hal-hal apa yang pernah dipuji oleh orang lain dari anda? Setelah itu renungkan juga, sifat-sifat apa yang selama ini ingiiin sekali anda hindari namun hal itu masih sulit dicapai? Sifat apa yang membuat anda pernah gagal menyelesaikan suatu tugas? Sifat apa yang masih ingin anda kembangkan atau anda miliki dalam diri anda ?

Tahu apa kelebihannya tapi tidak memiliki bukti-bukti untuk mendukung pernyataan tersebut.

Apapun yang anda nyatakan dalam interview, anda harus mempunyai bukti, evidence, sampel kejadian, contoh konkritnya. Anda bilang “saya jujur, saya seorang pekerja keras”. Adakah kejadian tertentu yang membuat anda memberi pernyataan ini?. Tanpa bukti yang kuat, jangan harap pewawancara akan percaya begitu saja mengenai kejujuran anda. “saya pekerja keras, buktinya saya masuk selalu tepat waktu, tugas-tugas saya selesai dengan baik dan pada deadline yang ditentukan, …”.  Lho, semua orang memang harus begitu kan? Beri contoh yang lebih spesifik, seorang pekerja keras harus teruji dengan kesulitan dan kendala, jika contoh yang anda berikan hanya situasi sehari-hari saja, itu sih bukan kelebihan.

Pilih kekurangan yang paling sederhana, paling aman dan justru saat disampaikan pada pewawancara ini akan jadi kelebihan.

Saya seriiing sekali mendengar hal ini. Di berbagai situs yang memuat contoh-contoh pertanyaan dan jawaban interview ini seringkali dimuat. Anda pikir pewawancara akan menelan itu mentah-mentah. Saya sih tidak! “Kekurangan saya, saya ini perfeksionis, maunya serba sempurna, terkadang ini membuat cara kerja saya …bla..bla..bla…, maunya serba detil dan teliti sebelum menyelesaikan tugas, ......” Hi..hi..hi.. nyontek dari mana nih? Jujur, beberapa tahun yang lalu saya pikir pendapat di atas adalah good idea. Namun setelah berprofesi sebagai pewawancara, saya justru tidak mendapatkan informasi apapun tentang orang yang saya wawancarai (asessee) dengan jawaban-jawaban sejenis. Ini tentunya bertentangan dengan keinginan dari sudut asessee yang ingin menampilkan dan menjual dirinya sebaik mungkin. Kasihan kan ? Jadi saya masih mengejarnya dengan beberapa pertanyaan lanjutan, namun jika asessee masih ngotot dan memberi jawaban berputar-putar mengenai kekurangannya, ya, saya kan tidak bisa memaksa.

Sekali lagi, jawaban-jawaban mengenai kelebihan perlu didukung oleh  bukti yang kuat. Selain itu, tidak ada gading yang tak retak. Apapun kekurangan anda, yang paling penting adalah : 1) Anda menyadari hal itu, 2) Anda ingin berubah, 3) Anda melakukan usaha-usaha yang konkrit untuk mengupayakan perubahan dan pengembangan diri anda ke depan, untuk menjadi pribadi yang semakin baik dan semakin baik. Saya justru salut  pada asesee yang bersikap terbuka dan sudah memperlihatkan upayanya untuk terus belajar dan mengembangkan diri, apapun kekurangan dan kesulitan yang dihadapinya. Nah! Jangan takut untuk tampil tidak sempurna di hadapan pewawancara, Nobody’s perfect!
Selengkapnya...


BEI atau Behavioral Event Interview adalah salah satu tools yang digunakan dalam Assessment Center. BEI adalah wawancara yang membidik perilaku-perilaku apa yang dilakukan oleh peserta AC di masa lalu dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Dasarnya berpikirnya adalah past experiences predict future performance, sehingga kesuksesan seseorang di masa depan untuk posisi atau jabatan tertentu diprediksi dari perilaku atau tindakan yang pernah dilakukan sebelumnya. Saya tidak akan membahas dasar teori BEI karena anda dapat menemukan artikel mengenai BEI maupun sampel pertanyaan dan jawaban di banyak situs. Namun demikian ada beberapa poin penting yang perlu diperhatikan peserta BEI, yaitu :

Peserta wawancara (saya akan sebut disini : Asesee) selalu menggunakan kata ganti “kita” dan “kami” meski sudah berkali-kali diingatkan untuk menggunakan kata “aku” atau “saya”. Penggunaan “kita-kami” membuat peranan asesee dalam sebuah kejadian atau peristiwa menjadi sangat kabur sehingga sulit menilai tindakan yang sudah dilakukannya. Tentunya ini sangat merugikan dirinya karena dapat dinilai tidak kompeten.

Saran : Gunakan kata “saya” atau “aku”. Jangan merasa bahwa anda akan dinilai sombong. Jika menceritakan pengalaman anda bekerja dalam sebuah tim, tetap gunakan kata ganti orang pertama. Coba anda rasakan bedanya :

“Dalam task force ini kami bertugas merancang Cost Reduction Program. Kami meeting dengan seluruh departemen dan menjelaskan apa maksud dan tujuan dari program ini. Kami ….”

“Task force ini bertugas merancang Cost Reduction Program. Karena latar belakang saya bidang keuangan, maka saya membuat beberapa model instrumen keuangan dan usulan ini saya ajukan kepada tim. Awalnya sebagian besar anggota tim menolak, saya mendengarkan masukan mereka kemudian saya membuat beberapa penyesuaian dari instrumen tersebut, ….”

See the different?

Kesalahan kedua, asesse tidak menceritakan suatu kejadian secara spesifik. Ini syarat mutlak sebuah BEI. Tanpa hal ini, jawaban yang diberikan asesee menjadi teoritis  karena ia tidak mengacu pada kejadian atau peristiwa tertentu. Pewawancara yang baik (saya sebut disini Asessor) tentunya akan mendetilkan hal ini dengan menanyakan : “contoh konritnya bagaimana?” atau “bisa diceritakan lebih spesifik?” bisa juga “kapan kejadian ini berlangsung?” dan berbagai variasi pertanyaan. Terkadang asesse segera menangkap apa yang diharapkan oleh asessor, namun bila ini terus berlangsung sepanjang interview, tentu sangat menyulitkan dalam menilai level kompetensi asesee.

Saran : pilihlah satu kejadian secara spesifik, bukan kejadian yang reguler, lalu ceritakan apa saja tindakan anda. Lihat perbedaan dua contoh berikut :

“Saat berhadapan dengan pelanggan, kita harus bersikap ramah, pelanggan adalah raja, jadi kita harus menservis mereka. Beberapa kali perusahaan juga mengadakan pelatihan mengenai cara menghadapi pelanggan, sehingga ….”

“Saya ingat betul pagi itu, ada seorang ibu yang datang dengan marah-marah, belum pernah ada orang yang memarahi saya sedemikian keras. Jengkel sebenarnya, karena saya sudah merencanakan untuk menyelesaikan tugas yang lain namun saya putuskan untuk mendahulukan pelanggan. Orang yang marah tidak perlu dilayani dengan kemarahan dan pengalaman saya, mereka suka didengarkan dan diberi waktu untuk marah. Jadi, saya persilahkan ibu tersebut duduk dengan sopan dan saya dengarkan keluhannya. Saya tidak membantahnya dan setelah ia puas mengeluarkan unek-uneknya…”

Kesalahan berikutnya adalah, asessee ingin tampil baik (faking good) dengan menyatakan bahwa pekerjaannya selama ini berjalan lancar, mulus, dan ia dapat mengatasi semua kendala yang ada. Misalnya ketika ditanya apakah pernahkah bekerja sama dengan orang yang sulit : “Ah, nggak, selama ini saya selalu berusaha baik dengan semua orang sehingga mereka selalu mau saya ajak bekerja sama.” Atau jawaban sejenisnya. Secara kritis ini patut dipertanyakan. Suatu pekerjaan berjalan lancar dapat disebabkan oleh dua hal, pemegang jabatan yang sudah sangat kompeten atau lingkungan yang sudah sangat kondusif? Jika jawaban pertama, tentunya perlu ada serangkaian tindakan yang harus dilakukan oleh pemegang jabatan, bukan? Apa pendapat anda jika asessee sendiri tidak mampu menceritakan secara rinci apa saja yang sudah dilakukannya agar semua hal itu berjalan tanpa cacat! Jika jawaban kedua,  kualitas seseorang akan teruji jika ia dapat mengatasi berbagai kendala. Semakin sulit dan kompleks sebuah kendala, maka akan semakin tinggi kredit yang diberikan jika ia berhasil mengatasinya. Kredit apa yang bisa diberikan pada asessee yang yang tidak pernah berhadapan dengan kesulitan dalam pekerjaan?

Saran : Pilih peristiwa yang ekstrim, sulit, kompleks (critical incidents) namun sukses dilalui. Jika peristiwa tersebut gagal mendulang sukses, cari hikmah apa yang dapat ditarik dari kejadian tersebut sebagai suatu pelajaran untuk lebih baik di kemudian hari.

Jadi, pertama, gunakan kata “saya” atau “aku”. Kedua, spesifik-spesifik-spesifik. Tiga, cari kejadian-kejadian yang paling kritis (critical incidents) yang pernah diatasi dengan gemilang. Jangan mengunakan berbagai contoh jawaban BEI yang banyak beredar. Nggak keren ah, gali pengalaman pribadi selama dua tahun terakhir, kalau anda tetap tidak menemukannya, yaa…wassalam deh.

Lihat juga artikel mengenai : Jenis-jenis Tes dalam Psikotest dan Assessment Center.

Selengkapnya...

Keajaiban Krisis

Posted by Ummi Irawan | 20:39 | | 0 comments »

Saya seringkali takjub dengan cara Tuhan bercanda, kreativitas-Nya tidak terbatas (tentu saja!). Bahkan di saat krisis pun kekuatan canda Tuhan sungguh luar biasa. Sayangnya kita, manusia, lebih banyak memelihara buruk sangka (su’uzdhon) dalam menerima canda Tuhan, sulit menumbuhkan rasa ikhlas untuk melihat hikmah yang disiapkan Tuhan dibalik semua kesulitan yang tampak di depan mata kita. Menurut saya, krisis finansial yang tengah melanda dunia termasuk Indonesia juga merupakan bagian dari canda Tuhan untuk membolak-balikkan keadaan, membuka pintu-pintu rezeki bagi siapapun yang memintanya dengan demikian memberi kesempatan si miskin menjadi kaya atau si kecil menjadi besar.
Saya amati, rupanya krisis tidak selalu berdampak buruk, buktinya pelabuhan di Batam malah meraup untung dengan adanya krisis ini. Banyak kapal yang pesan untuk parkir di perairan Batu Ampar, Batam. Dari biasanya hanya 10 kapal per bulan, saat ini sudah ada 200 kapal yang memesan untuk parkir di perairan Batam dengan durasi 1-2 tahun. Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Komersil, Kantor Pelabuhan Batam, Heri Kafianto. Menurutnya, harga minyak mentah dunia yang turun membuat para pemilik kapal lebih memilih menunggu.
Di bidang software juga terjadi efek yang tak kalah menariknya, krisis telah membuat banyak perusahaan lebih melirik teknologi dan software untuk membantu menyelesaikan pekerjaan skala besar namun dengan kebutuhan SDM yang relatif lebih sedikit. Para pelaku ICT (Information and Communication) lokal, mendapat ‘’limpahan rezeki’’ dari perusahaan luar negeri karena pelaku ICT di Indonesia tergolong disegani oleh pelaku ICT global, terutama untuk kawasan Asia. Demikian dituturkan Direktur Suteki IT Sulutions, Devid Hardi. Selain kualitas kerja yang dapat diandalkan, biayanya tergolong lebih kompetitif dibandingkan tenaga ICT global. Tidak hanya itu, di bidang perhotelan, ada indikasi penurunan pengunjung di hotel berbintang ke hotel bujet akibat krisis ini. Bahkan tukang reparasi sofa pun dapat mengais rezeki krisis karena ibu-ibu rumah tangga lebih memilih memperbaiki sofa yang sudah ada alih-alih membeli baru.
Pengalaman saya sendiri, krisis-krisis yang harus dilalui telah membuka beberapa peluang yang sungguh telah mengubah masa depan saya. Saat ini pun yang terjadi demikian, beberapa waktu yang lalu saya berbincang dengan karyawan sebuah perusahaan nasional mengenai program cost reduction yang saat ini menjadi perhatian utama pihak manajemennya, dimana semua bujet harus perhitungkan dengan matang, kalau perlu diturunkan seminimal mungkin. Mereka mencari alternatif vendor-vendor baru dengan harga yang lebih kompetitif. Ting! ini peluang buat saya. Tak berapa lama saya pun diminta membuat proposal assessment center oleh sebuah perusahaan yang punya nama besar. Tuh, percaya kan sama saya kalau krisis itu sebuah keajaiban?
Sumber berita : Detik Finance, Krisis Global Bawa Rezeki Bagi Pelabuhan di Batam, Rabu, 26/11/2008 16:07 WIB Republika Online, Krisis Membawa Berkah, Kamis, 18 Desember 2008 pukul 14:10:00 Kontan Online, Rezeki Hotel Bujet Dapat Limpahan Hotel Berbintang, Rabu, 26/11/2008 16:07 WIB
Selengkapnya...


Salah satu tools yang seringkali digunakan dalam assessment center adalah Leaderless Group Discussion (LGD). Ini adalah sebuah diskusi dalam kelompok kecil (5-7 orang) dengan materi yang telah ditentukan. Seperti namanya, dalam diskusi ini tidak diperkenankan mengangkap pimpinan kelompok secara formal (leaderless), sehingga semua anggota kelompok dapat duduk sejajar serta memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Dalam LGD, keterampilan berinteraksi dalam kelompok yang ditampilkan oleh peserta dapat diamati cukup mendalam karena permasalahan yang dipilih erat kaitannya dengan kondisi sehari-hari yang mungkin dikerjakan oleh seseorang yang menduduki posisi manager/supervisor. Akan tampak kemampuan seseorang dalam menganalisa permasalahan, mengambil keputusan, efektivitas komunikasi, dan kemampuan dalam meyakinkan orang lain serta mempresentasikan ide-idenya dengan cara yang terbuka dan bersahabat. Dapat dikatakan bahwa LGD merupakan metode yang cukup ampuh guna memilah peserta yang memiliki hasrat mengatur dengan peserta yang memimpin, peserta yang punya keinginan menampilkan ide-idenya semata dengan yang peserta yang terbuka terhadap ide-ide orang lain.

Seorang leader yang efektif idealnya mampu mempengaruhi orang lain dengan jalan membangun komitmen serta meningkatkan kohesivitas dalam kelompok. Jadi sebaiknya peserta pun dapat menampilkan kepercayaan diri dalam memberi inspirasi orang lain, persuasif dan memiliki kemampuan mendorong anggota kelompok (terutama yang pasif) untuk berani menampilkan idenya, asertif tanpa bersikap menjatuhkan orang lain serta efektif dalam mengatasi situasi perbedaan pendapat dalam kelompoknya.

Biasanya, peserta yang pasif berbanding lurus dengan rendahnya level kompetensi. Namun demikian, beberapa kali saya jumpai, peserta yang “tidak bunyi” selama LGD berlangsung pada saat interview dapat menampilkan bukti-bukti yang cukup spesifik mengenai kelayakan performa kerjanya selama ini. Orang-orang semacam ini biasanya tipe orang yang membutuhkan adaptasi yang cukup lama bila berhadapan dengan orang-orang atau situasi yang baru sehingga kurang mampu menampilkan dirinya saat LGD. Tipe orang yang melakukan pendekatan secara personal, low profile dan butuh waktu panjang untuk mengambil keputusan. Orang-orang semacam ini cenderung kurang taktis dan kurang mampu tampil meyakinkan di hadapan top manajemen sehingga seringkali terlewatkan atau tenggelam oleh dominansi rekan-rekannya yang lebih “meriah”. Nah, alangkah lebih baiknya jika performa kerja yang diperoleh dibarengi dengan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain, karena mau tidak mau seseorang itu pertama kali dikenali melalui kemampuannya dalam berkomunikasi. Jika tidak bisa menjualnya, siapa yang akan tahu prestasi kita? 

Lihat juga artikel saya tentang : Jenis-Jenis Tes dalam Psikotest dan Assessment Center. 
Selengkapnya...

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat pertanyaan melalui imel bagaimana cara membekali siswa lulusan SMU yang tidak berminat melanjutkan kuliah, dengan alasan apapun. Jika anda memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah selepas SMU, pertama-tama yang akan saya ucapkan adalah : Selamat ! Tahukah anda bahwa orang-orang terkaya di muka bumi ini memutuskan untuk langsung mengejar cita-citanya alih-alih melanjutkan kuliah alias dropout? Sebut saja Bill Gates & Paul Allen (Microsoft), Michael Dell (Dell Computer), dan Purdi E. Chandra (Primagama). Sementara itu deretan pengusaha Indonesia seperti Bob Sadino (Kem Chiks), Anne Avantie (Kebaya), dan Edward (Edward Forrer) hanya lulusan SMA. Bahkan Sukyatno Nugroho (Es Teler 77) dropout SMA kelas 1.
Oke, kalau anda berpikir saya mengambil contoh yang kurang membumi, saya kutipkan cerita yang sangat bagus dari salah satu buku Adi W. Gunawan yang berjudul Kesalahan Fatal Dalam Mengejar Impian :
Kawan saya, Ariesandi Setyono, lima tahun yang lalu pernah membantu seorang anak SMA, sebut saja Agus, untuk menemukan bidang keunggulannya. Agus berasal dari keluarga kurang mampu. Ayahnya terkena stroke dan ibunya bekerja serabutan untuk menghidupi keluarganya. Agus anak laki paling besar yang diharapkan menjadi tulang punggung keluarga.
Saat Aries bertanya.”Apa hobi atau kegiatan yang sangat suka kamu lakukan?” Agus menjawab cepat, ”Saya sangat suka merangkai bunga.” ‘Oke, kalau begitu, karena orangtuamu tidak akan mampu membiayai kamu kuliah, sebaiknya kamu belajar di florist dan mendalami hobimu untuk dijadikan sumber uang,” jelas Aries.
Agus benar-benar menjalankan apa yang Aries sarankan. Agus tidak kuliah, dan begitu tamat SMA- dengan meminjam uang dari ibunya- langsung belajar merangkai bunga di seorang florist terkenal di Surabaya. Hasilnya, pada usia 23 tahun, ia berhasil membeli satu unit ruko di lokasi yang strategis seharga 650 juta tunai. Ia juga mampu membeli mobil baru seharga lebih dari Rp. 100 juta secara tunai. Yang paling penting adalah ia mampu menjadi tulang punggung keluarganya dalam hal finansial.
Anda pasti bertanya bagaimana Agus bisa begitu berhasil? Ternyata dari hobinya merangkai bunga, Agus kemudian “melarikan” kecakapannya ini ke bidang wedding decoration. Hebatnya lagi, Agus membidik segmen pasar kelas atas, yaitu hanya menerima dekor pengantin di hotel bintang lima. Apa yang Agus lakukan pasti akan sangat maksimal karena usahanya dilakukan sejalan dengan bidang keunggulannya. Kabar terkahir yang kami dengar tentang Agus, jadwalnya untuk setahun sudah penuh. Ck..ck..ck.. luar biasa anak muda ini.
Betapa dahsyatnya hasil yang diperoleh jika seseorang bekerja sesuai dengan passion-nya plus sikap konsisten dan pantang menyerah. Namun demikian, tidak semua orang beruntung dapat mengetahui apa passion-nya. Nah, untuk mengetahui bidang keunggulan yang sejalan dengan potensi diri kita, ada resep jitu yang dimuat di buku yang sama, saya kutipkan disini :
1. Kita menyukai pekerjaan/aktivitas tersebut.
2. Kita mau melakukan pekerjaan/aktivitas tersebut meski tidak dibayar.
3. Kita merasakan mudah melakukannya, sedangkan orang lain merasa sulit.
4. Semakin sering kita melakukannya, semakin baik kita di bidang ini.
5. Kita sering dipuji orang karena melakukannya (pekerjaan ini mampu kita lakukan dengan baik).
6. Kita selalu bersemangat saat membicarakan pekerjaan/aktivitas tersebut.
7. Kita selalu bersemangat dan memiliki energi yang besar saat melakukan pekerjaan/aktivitas tersebut.
8. Kita sering lupa waktu saat melakukan pekerjaan/aktivitas tersebut.
9. Kita merasa puas ketika melakukan pekerjaan/aktivitas tersebut.
10. Kita merasa bangga saat melakukan pekerjaan/aktivitas tersebut.
11. Kita mudah mempengaruhi orang dalam bidang pekerjaan/aktivitas tersebut.
Alangkah lebih baiknya jika semenjak SMU, siswa-siswa sudah dibekali dan dibantu oleh guru-gurunya bagaimana cara menemukan bidang keunggulannya, sehingga jurusan yang dipilih benar-benar fokus dan bertujuan memupuk segenap potensi yang ada padanya. Tidak ada lagi arogansi jurusan, tidak ada lagi ikut-ikutan teman, tidak ada lagi keterpaksaan karena mengikuti keinginan orang tua dan segenap pribadi terus didorong untuk menemukan talenta dan kegairahan dalam membangun masa depannya.
Sumber : Kesalahan Fatal Dalam Mengejar Impian, Adi W. Gunawan, Gramedia, 2006
Selengkapnya...

Lentera Jiwa